preload
Tampilkan postingan dengan label Perang Mading. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang Mading. Tampilkan semua postingan

Rasa Bangga, terharu, dan kaget menyelimuti keluarga besar SMA Pomosda yang meraih penghargaan dalam Perang Mading KSC V sebagai  The Best Overall tingkat SMA tadi malam (20/03/2011). Mereka tak percaya akan menjadi jawara dalam ajang KSC V tersebut, karena sempat ada kabar miring bahwa mading SMA Pomosda telah didiskualifikasi akibat keterlambatannya kru mading ketika menghadiri acara di IKCC Kediri hari Jum’at kemarin (18/03). Namun untung saja dewan Juri mau memaklumi keterlambatan mereka saat penjuarian berlangsung. “Padahal tadi aku sempet putus asa, karena SMA Pomosda gak dipanggil-panggil. Ternyata…. Yeaah !!! Pengorbananku sampai menghabiskan 15 setel baju tau, kena cat semua,” tutur Hadiarzi Atika, 16, salah satu tim kru mading SMA Pomosda.
Proses pembuatan mading 3D bertajuk "Ontelque Terlindas Zaman" ini memakan waktu 2 minggu. Ide sepeda ontel muncul saat Pomosda mengadakan acara sepeda santai dalam rangka memperingati ultah Marasake, susu kedelai produksi Pomosda. Kendati acara sepeda santai hanya berselang 2 hari sebelum penjurian, hal ini tidak menyurutkan semangat para kru mading. Justru mereka semakin giat membuat artikel-artikel yang menarik serta melakukan beberapa wawancara eksklusif. Guntur Andhoqo, salah satu kru mading menuturkan bahwa 2 minggu pembuatan mading ontel cukup membuat mereka lelah. Hampir setiap hari mereka lembur. Pasalnya pengerjaan mading 3D bersamaan dengan mading 2D yang pengerjaannya baru dimulai 5 hari setelah mading 3D mulai dikerjaan. Bahkan mereka juga sempat bermalam di sekolah guna melakukan finishing mading sebelum penjurian. Tidak ada perbedaan antara kru mading 2D dan 3D sebab mereka saling membantu. "Nginep-nginep bareng, capek-capek bareng, selama pembuatan mading kita seneng banget. Kita juga bikin istilah yang biasa dipake lucu-lucuan, kayak genius vs idiot. Genius untuk 2D dan idiot untuk 3D. Tapi kita saling bantu, kok. Kan kita masih satu tim, SMA Pomosda," jelas Guntur.
Sebenarnya, para kru mading optimis untuk memenangkan kompetisi ini melalui mading 2 dimensi. Karena mading ini tampilan dan temanya sangat menarik. Sebagian besar siswa-siswa SMA Pomosda lebih menyukai mading ini daripada mading 3 dimensi. Namun, setelah diamati isi artikel dari mading tersebut kurang padu. Harapan mereka ke depan, mereka bisa mendapat gelar lagi dalam ajang School Contest VI,yang pastinya dapat membawa nama baik SMA Pomosda serta menjalankan perintah atasan dengan baik.

Read More...

Kediri (18/03) - Menjelang maghrib, ada satu insiden yang membuat para pengisi gedung IKCC gempar. Salah satu mading terbakar karena adanya kabel yang terbakar dan merambat melalui kapas. Akhirnya terjadilah ledakan kecil. Untungnya mading dari SMA Al-Huda yang bertema TPA (Tempat Pembuangan Akhir) ini hanya sebagian kecil yang rusak dilalap api karena cepat tanggapnya para kru mading. Beberapa pengunjung yang menyaksikan ada yang ikut membantu memadamkan namun ada juga yang hanya menyaksikan dan malah memotret insiden yang jarang-jarang terjadi itu.
Meskipun begitu, karpet yang menjadi alas mading juga ikut terbakar. Untungnya api tidak cepat menjalar. Jika iya, perang mading di gedung IKCC akan semakin berapi-api karena penuh dengan api di mana-mana. Wajah lemas tidak begitu nampak dari para kru mading. Mereka mengaku ikhlas dan tabah menghadapinya. “Ini dibuat pelajaran aja supaya lebih hati-hati. Untung aja madingnya sudah dinilai jadi gak sedih-sedih amat,” ungkap salah satu kru.
Hingga saat ini pihak panitia School Contest tidak memberi banyak komentar seputar insiden tersebut. Mereka hanya turut membantu memadamkan api dan sedikit menenangkan para kru mading. Juga tak lupa mengingatkan kru mading lainnya untuk berhati-hati menggunakan sumber listrik, melihat banyaknya mading yang menggunakan listrik dan para kru yang membawa alat elektronik.(nfi)

Read More...

Talkshow mading yang diadakan pada hari kedua perang mading (18/03) rupanya tak cukup bisa menjadi sorotan utama para pengunjung serta peserta School Contest di IKCC. Meskipun begitu, talkshow mading yag dimulai sejak IKCC dibuka pagi ini hingga sore hari itu menjadi ajang bagi tiap-tiap sekolah untuk unjuk gigi kehebohan masing-masing sekolah. Tak jarang jika suatu gerombolan yang semula asyik bergurau dan bermain kamera mendadak beralih perhatian menuju panggung sambil bersorak-sorak. Ketika nama sekolah mereka dipanggil, yel-yel pun mulai terdengar. Dan sepanjang talkshow berlangsung para pendukung akan berteriak-teriak, entah itu meneriakkan yel-yel sekolah ataupun sekedar menyoraki kawan mereka yang diwawancarai.
Salah satu sekolah yang heboh paling lama adalah MTsN Puncu. Sejak talkshow dimulai, para kru mading yang terdiri dari sekitar 8 orang ini terus melantunkan yel-yel mereka hingga menarik perhatian para pengunjung. Para pengunjung yang rata-rata baru tiba ini seolah tertular hawa semangat dari para siswa MTsN Puncu. Sayangnya kehebohan mereka hanya berlangsung hingga sekolah mereka selesai talkshow. Masih banyak lagi sekolah-sekolah lain yang menunjukkan kehebohan-kehebohan yang tidak kalah seru. Contohnya saja SMKN 2 Kediri. Ya, lagi-lagi SMKN 2 Kediri menarik perhatian setelah kemarin di sela-sela persiapan perang mading mereka menampilkan aksi cheers. Stan SMKN 2 Kediri yang membawa sound system sendiri memutar lagu-lagu dengan keras yang sayangnya terpaksa harus dimatikan karena mengganggu talkshow.
Puncak kehebohan talkshow dimulai seusai break sholat Dhuhur. Masing-masing sekolah semakin heboh dengan berkumpul mengelilingi panggung. Mungkin para peserta School Contest sudah jenuh berjalan-jalan. Acara talkshow pun semakin seru. Beberapa peserta yang diwawancarai membuat variasi-variasi yang menarik. Ada yang saat diwawancarai menjawab dengan diselingi humor, ada yang bernyanyi, ada pula yang berlagak seperti banci. Perwakilan mading SMAN 1 Nganjuk misalnya. Dengan pakaian penari Bali, ia berlagak seperti perempuan saat menjawab pertanyaan MC. “Jadi, mading kami mengangkat tema saraswati yang identik dengan bali,” tuturnya dengan kemayu dan diikuti tawa penonton.
Lainnya, Yusuf, perwakilan mading 3D SMA Pomosda ini menjawab dengan sedikit banyolan. “Intinya, pengunjung enjoy kami enjoy, sama-sama enjoy, hahaha,” ujarnya. Lantunan lagu “Tinggal Kenangan” dari Gaby dalam bahasa Arab juga menarik perhatian pengunjung saat salah satu perwakilan SMA Al-Huda melantunkannya. Meski terdengar fals tetap saja sajian mereka menghibur. Talkshow mading hari ini dilanjutkan oleh Accoustic Band Contest yang dimulai pada pukul 19.00.

Read More...

Sejenak mading yang terletak di sudut gedung IKCC ini terlihat aneh. Karena seluruh mading terbuat dari koran. Padahal jika melihat tema school contest kali ini yang bertajuk “colorful life”, harusnya mading bernuansa warna-warni. Namun, tim mading SMP Al-Huda memiliki pengertian tersendiri seputar colorful life. Kru yang terdiri dari siswa kelas 8 ini dengan ramah menyambut setiap pengunjung dan menjawab pertanyaan-pertanyaan pengunjung. “Kami mendefinisikan colorful life ini dengan bola. Karena di pertandingan bola itulah muncul kehidupan dan ekspresi berwarna-warni,” jelas Merlina, salah satu kru.
Sedangkan Rena menjelaskan alasan mengapa mereka menggunakan koran adalah karena mudah didapat serta murah. “Kami juga ingin memberitahu bahwasanya koran itu penting sekaligus berguna,” jelasnya lagi. Lalu, kenapa mereka tidak mewarnai mading mereka? “Karena kami ingin menunjukkan sisi kejujuran. Koran ya ini apa adanya. Kan banyak tuh orang yang luarnya bagus tapi dalemnya jelek. Kita gak pengen kayak gitu,” Hani beralasan. Meskipun masuk akal, tapi tim jurnalis masih belum cukup puas dengan jawaban mereka. Pasalnya mading mereka ini tidak tampak menarik seperti mading-mading lainnya. “Yang penting masuk 40 besar,” jelas Merlina.

Read More...

Kediri – Suasana perang mading hari kedua di IKCC hari ini (18/03) tak seramai pembukaan perang mading kemarin (17/03). Namun, antusias para peserta tak surut. Sejak dibuka pada pukul 09.00, gedung IKCC sudah mulai ramai oleh para peserta serta pengunjung. Acara perang mading hari ini adalah talkshow mading dan Accoustic Band Contest yang baru akan dimulai pada pukul 18.00. Pada talkshow mading ini, MC memanggil satu persatu perwakilan dari setiap finalis perang mading untuk diwawancarai beberapa hal seputar mading.
Berbagai cara dilakukan oleh para kru mading untuk berlomba-lomba menarik pengunjung sebanyak-banyaknya. Ada yang berpakaian aneh bin nyeleneh dan ada juga yang menawarkan permainan-permainan unik pada mading mereka. Diantara para peserta yang nyeleneh, salah satunya adalah SMAN 1 Nganjuk. Menyamakan mading mereka yang bertema “Saraswati”, para kru mading sengaja menggunakan pakaian layaknya orang Bali. Yang menarik dari kostum mereka adalah satu kru mading lelaki mereka yang berdandan seperti penari Bali perempuan, lengkap dengan gelungan rambut palsu dan kemben khas bali. Setengah terbuka, punggung hingga bahunya pun penuh dengan coret-coretan. Mading 2D dari SMKN 2 Kediri juga sengaja menambahkan asesoris berupa papan yang dapat diputar dengan macam-macam tulisan untuk menarik pengunjung. Jika pengunjung beruntung saat memutar papan tersebut, mereka bisa mendapat permen lolipop atau cokelat gratis.
Selain itu ada juga peserta yang berpakaian layaknya pocong dan berkeliling gedung IKCC. Sejenak pocong tersebut menjadi pusat perhatian para pengunjung dan menarik para peserta fotografi untuk mengambil gambarnya. Menurut Vina, kru mading MTsN Puncu, hari kedua perang mading semakin seru dan bisa dibilang sebagai puncak perang mading. Sedangkan menurut salah satu pengunjung dari Kediri, ajang School Contest cukup menarik untuk dikunjungi. “Saya baru pertama kali melihat pameran mading yang menarik seperti ini,” ungkap ibu yang sedang menggendong seorang balita dan tidak mau disebut namanya itu.

Read More...

Kediri (17/03)- Hari ini acara penilaian mading pertama dimulai. Tentu para peserta mading terlihat begitu antusias mempromosikan mading-madingnya. Dari sekian banyak mading-mading yang ada, kami menjumpai salah satu mading di sebelah pojok yang jarang dikunjungi. Terdengar begitu keras suara lagu pop yang sedang dinyanyikan salah seorang wanita dengan mengenakan baju piama (baju tidur). Hal itu tentu saja menarik kami untuk berbincang sedikit mengenai mading mereka.
Mading dengan judul “Wake Up Girl” ini, ternyata hasil jerih payah kru mading dari SMKn 2 Kediri. Mading yang berbentuk kamar ini terlihat begitu ramai karena kerasnya suara lagu-lagu pop yang diputar. “Tempat kita kan pojok, Mas. Dadi gak kethok makanya kita pake karaokean biar bisa narik pengunjung”, ujar Nurhalimah salah satu layouter mading tersebut. Dengan demikian banyak pengunjung yang berkunjung karenanya. Selain itu, dengan bentuk yang menyerupai kamar, lengkap dengan tempat tidur kecil, karpet, televisi , serta pernak pernik kamar cewek lainya memberi kesan tersendiri bagi orang yang melihatnya.
Pada awalnya, pemunculan ide mading mereka pun juga unik. Hanya kepincut video klip band Goliath “Cinta Monyet”. “Kita ambil judul gak usah neko-neko, Mas. Yang penting asik”. Jelas Raska, ketua kru mading tersebut. Mading dengan anggota 10 orang ini rata-rata memang terdiri dari perempuan, hanya dua diantaranya laki-laki. Oleh karenanya, mereka cukup kesulitan dalam pembuatnya. “Tanganku sempet kepukul palu sendiri gara-gara mau masang papan yang di atas," ujar Nurhalimah lagi. Tetapi dengan semangat kekompakan, akhirnya mading tersebut dapat diselesaikan dalam waktu tiga bulan.
 Dalam pengerjaannya,mading ini juga sempat rusak parah karena dirusak oleh kakak-kakak kelas tiga. “ Mereka kira tu waktu penilaian babak seleksi, lombanya udah selesai. Jadi diancurin rame-rame”. Oleh karenanya mereka harus mengulangnya kembali. “Capek, Mas. Gara-gara harus ngulang lagi dari nol harus pake' jam lembur segala”. Tetapi yang mengherankan adalah mading yang rusak berat tersebut dapat diselesaikan hanya dengan waktu tiga hari saja. “La namanya orang udah kepepet gitu malah jadi tambah semangat, Mas,” ujarnya lagi dengan cengar-cengir. (nina)

Read More...

Terlihat dari jauh siswi-siswi yang berdandan cantik mengenakan kostum adat Bali. Mereka adalah Fiana, Avi dan Fitri  yang lihai dalam menari tarian tradisional. Rupanya  mereka sedang mempromosikan Mading sekolah MTs N Puncu yang telah di pajang sejak kemarin (Rabu, 16/03/2011). Demi menambah minat para pengunjung datang ke tempatnya, Para siswi itu menampilkan suatu tarian yang tak jarang orang mengetahuinya, yaitu tari Janger (Bali). Hanya dalam waktu 3 hari ia dapat menguasai taritersebut, karena mereka sudah terbiasa dan sering berlatih dalam kegiatan Extra tari di sekolahnya. Sorak dan tepuk tangan para penonton menambah ramai suasana setelah dimulainya acara  oleh Wakil bupati Kediri.

 Mading yang telah mereka buat ada 2, yaitu 3 dimensi dan 2 dimensi. Mading 3 dimensi bertema”Teenage Life”, maksudnya mereka menginginkan bahwa dengan mading ini , para remaja dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia remaja saat ini, palagi terpengaruhnya  para remaja kedalam perilaku-perilaku yang negative.Sehingga, hanya ditujukan untuk kalangan remaja saja. Sedangkan 2 dimensi bertema tentang budaya-budaya Indonesia yang harus tetap dijaga dan dilestarikan.

Salah satu yang kami kunjungi saat itu adalah mading 3 dimensi. Dengan ramah mereka menyambut pera pengunjung untuk melihat-lihat hasil kerja yang telah disusunnya dengan begitu rapi. Sekolah yang beralamat di Jln. Pare Wates Km.6, Sidomulyo, Kuncu, Kediri beranggota 8 orang dan di ketuai oleh Mubarok  siswa kelas 8. Mereka memanfaatkan barang-barang yang sudah tak terpakai lagi, alias barang bekas yang kemudian di sulap menjadi sesuatu yang bernilai tinggi, menarik dan tentunya bermanfaat dikalangan masyarakat. Bahan dasar yang mereka gunakan antara lain botol air mineral, bungkus deterjen,kardus bekas, kaleng dan Koran bekas. Ide-ide kreatif tak berhenti disitu saja, diselipkanbeberapa hasil karya yang sangat cenerlang. “kami ingin memperjelas barang-barang tersebut agar berguna dan lagian sampah kan juga tak selamanya terbuang sia-sia” tutur Alfi menjelaskan. Beberapa hasil karya siswa Mts N 1 Puncu adalah pembangkit listrik tenaga kulit pisang dan perangkap nyamuk  yang telah menjuarai sekarisidenan Kediri. Juga terdapat berbagai macam hasta karya antara lain miniature sepeda Lido, Tissu Box dari kulit kamtoro, Rumah adat dari Stik Es, Boneka mini dari kerang, Rumah adat dari Koran bekas dan masih banyak yang lainnya. Sehingga total biaya yang harus di tanggung oleh Sekolah sebesar Rp 200.000,00. Termasuk dalam jumlah yang sedikit dan hemat karena tak begitu memerlukan bahan yang mahal.

Penjurian yang dilakukan akhir februari kemarin membuat para kru mading MTs N Puncu semakin intropeksi diri. Ada beberapa kritikan dari dewan juri mengenai desain mading mereka. Juri menyebutkan bahwa dalam mading ini Font yang digunakan dalam pembuatan artikel kurang besar. Dan juga foto-fotonya tak ada penjelasan. Untuk yang lainnya sudah lumayan, ada kreativitas tersendiri dari mereka. Dan dengan ini, mereka bisa membuatnya lebih dari kemarin. Karena yang mereka inginkan supaya mading mereka dapat masuk dalam babak final. “Ini adalah yang kedua kalinya kami menikuti perangmading. Dan Alhamdulillah tahun lalu kami mendapat penghargaan sebagai perform terbaik”, Tutur Astin dengan bangga.

Read More...

Gedung IKCC Kediri penuh sesak para pengunjung dan peserta lomba. Di dalamnya terpajang berbagai  macam mading yang begitu menarik dan penuh kreasi. Tema Colorful Life menjadi salah satu dasar ide pembuatan mading mereka. Ketika kami mengelilingi daerah mading, salah satu kru mading SMAN 7 Kediri yaitu Septiana mengajak kami berkunjung ke madingnya sekaligus mempromosikannya seolah dia sudah kenal dengan kami. Padahal bertemu pun baru kali ini. Sebenarnya, kami tak begitu berniat mewawancarainya. Tapi, Septiana selalu mengajak kami bercanda, sehingga tak sengaja kami melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang meliputi mading mereka.
Mading dengan tema “Fairy Wold” memiliki keunikan tersendiri. Peri Dunia yang dimaksudkan mereka adalah mereka ingin membandingkan antara peri dan manusia.” Semua ini berkat Mas bos, soalnya udah ngasih kita ide kayak gini” cetus Septi penuh canda. Mading yang diketuai oleh Lolita ini mampu menyelesaikan mading dalam kurun waktu hanya 10 hari saja. “Tapi ya itu, harus lembur biar mencapai target,” jawab Septi lagi. Sedangkan biaya yang harus dikeluarkan mencapai 525.000 rupiah, karena yang membuat mahal adalah gabus dan catnya.
Adapun unsur yang terdapat dalam mading SMAN 7 Kediri yaitu dakron sebagai awan yang di ibaratkan bahwa ada sebuah istana di atasnya, dan diselipkan pohon yang menjulang tinggi hingga menembus awan sebagai symbol kesejukan. Dan yang tak kalah menarik, terdapat kolam kecil yang diisi dengan air. Maksudnya adalah sumber kehidupan yang terus ada dalam dunia peri tersebut. Pokoknya, mading mereka sangat berwarna. Sekilas melihat tema “Colorful Life”, spontan mereka tertuju pada warna pelangi. Dan sontak mereka menggunakan kostum peri sebagi penarik minat para pengunjung.

Read More...


Dari kejauhan terlihat begitu unik, mading dari SMA Puntu menjadi sorotan utama. Bentuk dan tema yang aneh menjadi sasaran para jurnalis untuk melakukan wawancara. Ufo warna hijau dengan lampu sorot serta peserta yang menggunakan kostum ala alien berhasil menarik kami untuk melakukan wawancara kecil. Mading yang terbuat dari bubur Koran ini pada dasarnya mengambil tema tentang Alien. Dengan memanfaatkan barang bekas seperti Koran bekas, kaleng bekas, jerami, dan ban bekas dari tempat sampah, dapat diubah menjadi pesawat alien lengkap dengan pernak pernik lucu lainnya.
Untuk membuat nya tidak semudah yang di perkirakan, mereka harus menyiapkan 15 kilogram Koran bekas dan mencampurnya dengan lem. “Tangan kita sampe lengket-lengket gini deh” ujar Elisye, salah satu layouter dari peserta mading tersebut. Tetapi dengan kerja sama, dukungan dari guru dan teman-teman dapat memberi semangat mereka, sehingga mading tersebut dapat diselesaikan selama kurang lebih tiga minggu. “kalau udah final party gini rasanya jadi ayem, soalnya udah nggak ada tanggungan buat ngerjain mading” lanjutnya. Dalam pembuatam mading membutuhkan biaya sekitar 500.000 rupiah, memang wajar karena pembuatannya sebanding  hasil yang ia buat. lagi.
Tetapi sebenarnya apa hubungan alien/UFO dengan colorful life?, “kalo menurut kami sih karena alien itu mengerikan dan ada suatu kebenaran yang harus diungkap , dan sekarang juga banyak terjadi keanehan-keanehan seputar alien, seperti kejadian crop circle yang terjadi di Sleman kemarin sehingga terbayang dalam benak kami untuk membuat yang nyeleweng seperti ini. Memang mereka membuat seperti piring terbang, hal tersebut di karenakan ingin membedakan antara manusia dengan makhluk lain, seperti hal ini.

Read More...


Perang mading School Contest V baru akan dimulai besok. Namun gedung IKCC (Insumo Kediri Convention Center) di Kediri Rabu siang (16/03) sudah tampak dipadati oleh puluhan orang. Proses pemindahan mading untuk acara perang mading besok mulai dilakukan oleh beberapa sekolah. Para pelajar berseragam tampak sedang mengangkut berbagai macam bentuk benda untuk dibawa menuju lokasi yang telah disediakan oleh panitia. Tak hanya peserta, para panitia School Contest juga tengah mempersiapkan diri dengan memasang beberapa spanduk, mengecek sound system, serta menyiapkan kursi di depan panggung. Bahkan panas terik matahari yang terasa hingga ke dalam ruangan tak menyurutkan semangat mereka. Suara dentuman palu ditemani alunan musik menggema di dalam gedung IKCC.
Beberapa menit selepas tengah hari, sejenak perhatian orang-orang di dalam gedung IKCC terpusat pada area depan panggung yang belum sepenuhnya jadi. Rupanya tim cheerleaders dari SMKN 2 Kediri mencoba menghibur para pelajar di dalam IKCC dengan menunjukkan beberapa tarian yang alunan musiknya datang dari sound system stan mading mereka sendiri. Hentakan kaki dan teriakan para cheerleader menarik perhatian orang-orang di dalam IKCC. Disusul dengan tepukan tangan serta sorak sorai dari para siswa SMKN 2 Kediri membuat suasana di dalam gedung IKCC semakin memanas. SMKN 2 Kediri sepertinya memang membawa pasukan paling banyak ke IKCC hari ini jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain. Hingga pukul 13.00 WIB sekolah-sekolah yang baru mempersiapkan mading mereka masih berjumlah belasan. Beberapa diantaranya adalah SMA dan SMP Pomosda, MAN 1 Kediri, MTsN 1 Pare, SMK Bhakti Mulia dan SMPN 1 Tanjunganom.
Penataan stan-stan mading serta arah panggung tak banyak berubah dari School Contest tahun lalu. Mading 2D masih diletakkan di pusat gedung dan mading 3D diletakkan di sekelilingnya. Panggung yang akan digunakan untuk News Presenter Contest, School Band Contest, dan Accoustic Band Contest juga masih terletak di bagian selatan gedung IKCC. Sedang untuk stan pendidikan berada di halaman depan pintu gedung. Persiapan berarti nampak belum datang dari para pengisi stan pendidikan. Diperkirakan puncak persiapan akan mulai sore ini hingga nanti malam.(nfi)

Read More...

Radar Kediri yang terbit Kamis yang lalu (10/03) membawa kabar bahagia bagi SMA Pomosda. Kedua mading perwakilan SMA Pomosda, baik 2D maupun 3D dikabarkan lolos ke Final Party. Hal ini disambut dengan sukacita oleh seluruh penghuni sekolah. Bahkan seluruh siswa maupun guru serta para staf sudah menanti-nanti berita ini semenjak 3 hari sebelum berita itu terbit. Segera setelah datangnya berita tersebut beberapa crew mading dan pembina melakukan kumpulan saat jam istirahat.
“Seneng pasti lah. Tapi juga takut, deg-degan, khawatir, bingung, pusing, campur aduk deh. Ya, mudah-mudahan menang the best overall,” ungkap Alif, salah satu crew mading yang ditemui di sela-sela kumpulan. Salah satu crew mading lain, Binti, mungkin terlalu senang hingga hanya tertawa saat tim jurnalis menanyakan perasaannya. “Hahaha, seneng pokoknya,” katanya sambil tertawa. Sedangkan ketua mading, Arif, mengungkapkan beberapa kendala yang belum terselesaikan, “Mading yang kemarin sebenarnya belum sempurna. Baru 75% dari konsep awal. Terus juga ada beberapa bagian yang rusak. Makanya kita segera melakukan kumpulan supaya bisa segera terselesaikan”. Sampai saat ini crew mading masih mempersiapkan diri untuk menuju final.
Selain itu, mading SMP Pomosda juga goes to final. Selamat, deh buat Pomosda. Semoga sukses di final party!

Read More...