preload

Kediri – Suasana perang mading hari kedua di IKCC hari ini (18/03) tak seramai pembukaan perang mading kemarin (17/03). Namun, antusias para peserta tak surut. Sejak dibuka pada pukul 09.00, gedung IKCC sudah mulai ramai oleh para peserta serta pengunjung. Acara perang mading hari ini adalah talkshow mading dan Accoustic Band Contest yang baru akan dimulai pada pukul 18.00. Pada talkshow mading ini, MC memanggil satu persatu perwakilan dari setiap finalis perang mading untuk diwawancarai beberapa hal seputar mading.
Berbagai cara dilakukan oleh para kru mading untuk berlomba-lomba menarik pengunjung sebanyak-banyaknya. Ada yang berpakaian aneh bin nyeleneh dan ada juga yang menawarkan permainan-permainan unik pada mading mereka. Diantara para peserta yang nyeleneh, salah satunya adalah SMAN 1 Nganjuk. Menyamakan mading mereka yang bertema “Saraswati”, para kru mading sengaja menggunakan pakaian layaknya orang Bali. Yang menarik dari kostum mereka adalah satu kru mading lelaki mereka yang berdandan seperti penari Bali perempuan, lengkap dengan gelungan rambut palsu dan kemben khas bali. Setengah terbuka, punggung hingga bahunya pun penuh dengan coret-coretan. Mading 2D dari SMKN 2 Kediri juga sengaja menambahkan asesoris berupa papan yang dapat diputar dengan macam-macam tulisan untuk menarik pengunjung. Jika pengunjung beruntung saat memutar papan tersebut, mereka bisa mendapat permen lolipop atau cokelat gratis.
Selain itu ada juga peserta yang berpakaian layaknya pocong dan berkeliling gedung IKCC. Sejenak pocong tersebut menjadi pusat perhatian para pengunjung dan menarik para peserta fotografi untuk mengambil gambarnya. Menurut Vina, kru mading MTsN Puncu, hari kedua perang mading semakin seru dan bisa dibilang sebagai puncak perang mading. Sedangkan menurut salah satu pengunjung dari Kediri, ajang School Contest cukup menarik untuk dikunjungi. “Saya baru pertama kali melihat pameran mading yang menarik seperti ini,” ungkap ibu yang sedang menggendong seorang balita dan tidak mau disebut namanya itu.

Read More...

Kediri (17/03)- Hari ini acara penilaian mading pertama dimulai. Tentu para peserta mading terlihat begitu antusias mempromosikan mading-madingnya. Dari sekian banyak mading-mading yang ada, kami menjumpai salah satu mading di sebelah pojok yang jarang dikunjungi. Terdengar begitu keras suara lagu pop yang sedang dinyanyikan salah seorang wanita dengan mengenakan baju piama (baju tidur). Hal itu tentu saja menarik kami untuk berbincang sedikit mengenai mading mereka.
Mading dengan judul “Wake Up Girl” ini, ternyata hasil jerih payah kru mading dari SMKn 2 Kediri. Mading yang berbentuk kamar ini terlihat begitu ramai karena kerasnya suara lagu-lagu pop yang diputar. “Tempat kita kan pojok, Mas. Dadi gak kethok makanya kita pake karaokean biar bisa narik pengunjung”, ujar Nurhalimah salah satu layouter mading tersebut. Dengan demikian banyak pengunjung yang berkunjung karenanya. Selain itu, dengan bentuk yang menyerupai kamar, lengkap dengan tempat tidur kecil, karpet, televisi , serta pernak pernik kamar cewek lainya memberi kesan tersendiri bagi orang yang melihatnya.
Pada awalnya, pemunculan ide mading mereka pun juga unik. Hanya kepincut video klip band Goliath “Cinta Monyet”. “Kita ambil judul gak usah neko-neko, Mas. Yang penting asik”. Jelas Raska, ketua kru mading tersebut. Mading dengan anggota 10 orang ini rata-rata memang terdiri dari perempuan, hanya dua diantaranya laki-laki. Oleh karenanya, mereka cukup kesulitan dalam pembuatnya. “Tanganku sempet kepukul palu sendiri gara-gara mau masang papan yang di atas," ujar Nurhalimah lagi. Tetapi dengan semangat kekompakan, akhirnya mading tersebut dapat diselesaikan dalam waktu tiga bulan.
 Dalam pengerjaannya,mading ini juga sempat rusak parah karena dirusak oleh kakak-kakak kelas tiga. “ Mereka kira tu waktu penilaian babak seleksi, lombanya udah selesai. Jadi diancurin rame-rame”. Oleh karenanya mereka harus mengulangnya kembali. “Capek, Mas. Gara-gara harus ngulang lagi dari nol harus pake' jam lembur segala”. Tetapi yang mengherankan adalah mading yang rusak berat tersebut dapat diselesaikan hanya dengan waktu tiga hari saja. “La namanya orang udah kepepet gitu malah jadi tambah semangat, Mas,” ujarnya lagi dengan cengar-cengir. (nina)

Read More...

Terlihat dari jauh siswi-siswi yang berdandan cantik mengenakan kostum adat Bali. Mereka adalah Fiana, Avi dan Fitri  yang lihai dalam menari tarian tradisional. Rupanya  mereka sedang mempromosikan Mading sekolah MTs N Puncu yang telah di pajang sejak kemarin (Rabu, 16/03/2011). Demi menambah minat para pengunjung datang ke tempatnya, Para siswi itu menampilkan suatu tarian yang tak jarang orang mengetahuinya, yaitu tari Janger (Bali). Hanya dalam waktu 3 hari ia dapat menguasai taritersebut, karena mereka sudah terbiasa dan sering berlatih dalam kegiatan Extra tari di sekolahnya. Sorak dan tepuk tangan para penonton menambah ramai suasana setelah dimulainya acara  oleh Wakil bupati Kediri.

 Mading yang telah mereka buat ada 2, yaitu 3 dimensi dan 2 dimensi. Mading 3 dimensi bertema”Teenage Life”, maksudnya mereka menginginkan bahwa dengan mading ini , para remaja dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia remaja saat ini, palagi terpengaruhnya  para remaja kedalam perilaku-perilaku yang negative.Sehingga, hanya ditujukan untuk kalangan remaja saja. Sedangkan 2 dimensi bertema tentang budaya-budaya Indonesia yang harus tetap dijaga dan dilestarikan.

Salah satu yang kami kunjungi saat itu adalah mading 3 dimensi. Dengan ramah mereka menyambut pera pengunjung untuk melihat-lihat hasil kerja yang telah disusunnya dengan begitu rapi. Sekolah yang beralamat di Jln. Pare Wates Km.6, Sidomulyo, Kuncu, Kediri beranggota 8 orang dan di ketuai oleh Mubarok  siswa kelas 8. Mereka memanfaatkan barang-barang yang sudah tak terpakai lagi, alias barang bekas yang kemudian di sulap menjadi sesuatu yang bernilai tinggi, menarik dan tentunya bermanfaat dikalangan masyarakat. Bahan dasar yang mereka gunakan antara lain botol air mineral, bungkus deterjen,kardus bekas, kaleng dan Koran bekas. Ide-ide kreatif tak berhenti disitu saja, diselipkanbeberapa hasil karya yang sangat cenerlang. “kami ingin memperjelas barang-barang tersebut agar berguna dan lagian sampah kan juga tak selamanya terbuang sia-sia” tutur Alfi menjelaskan. Beberapa hasil karya siswa Mts N 1 Puncu adalah pembangkit listrik tenaga kulit pisang dan perangkap nyamuk  yang telah menjuarai sekarisidenan Kediri. Juga terdapat berbagai macam hasta karya antara lain miniature sepeda Lido, Tissu Box dari kulit kamtoro, Rumah adat dari Stik Es, Boneka mini dari kerang, Rumah adat dari Koran bekas dan masih banyak yang lainnya. Sehingga total biaya yang harus di tanggung oleh Sekolah sebesar Rp 200.000,00. Termasuk dalam jumlah yang sedikit dan hemat karena tak begitu memerlukan bahan yang mahal.

Penjurian yang dilakukan akhir februari kemarin membuat para kru mading MTs N Puncu semakin intropeksi diri. Ada beberapa kritikan dari dewan juri mengenai desain mading mereka. Juri menyebutkan bahwa dalam mading ini Font yang digunakan dalam pembuatan artikel kurang besar. Dan juga foto-fotonya tak ada penjelasan. Untuk yang lainnya sudah lumayan, ada kreativitas tersendiri dari mereka. Dan dengan ini, mereka bisa membuatnya lebih dari kemarin. Karena yang mereka inginkan supaya mading mereka dapat masuk dalam babak final. “Ini adalah yang kedua kalinya kami menikuti perangmading. Dan Alhamdulillah tahun lalu kami mendapat penghargaan sebagai perform terbaik”, Tutur Astin dengan bangga.

Read More...

Tepuk tangan dan teriakan yang begitu kencang dari penonton menyelimuti gedung IKCC Kediri. Penampilan pertama sebelum acara dibuka yaitu pemampilan dari perwakilan SMPN 1 Nganjuk seolah menghipnotis para pengunjung ketika menyaksikan  tembang dari Marcell tersebut. Penampilan  kedua datang dari SMPN 1 Tanjunganom yang menampilkan tarian daerah. Dilanjutkan penampilan yang sungguh membuat penonton terpana, datang dari MA Al-Huda, Kediri. Sekitar 20 personil dikeluarkannya untuk menampilkan perform terbaik dalam tari Saman asal dari Banda Aceh. Mereka sangat kompak dan begitu cekatan dalam tariannya. Mereka menginginkan agar dapat melestarikan budaya Islam supaya tidak terjadi kepunahan. Ada juga perform dari SMA 7 Kediri, menampilkan dance yang begitu hot dan memikat. Gerak tubuh dan gaya dance-nya membuat para penonton, terutama kaum adam membuka mulut lebar-lebar. Pokoknya masih banyak lagi yang lain selain penampilan-penampilan tersebut.
Sekitar pukul 10.00 acara dibuka oleh  Wakil Bupati yaitu bapak Abubakar. Namun, sebelumnya MC mempersilahkan para tamu undangan dan pengunjung berdiri dan menyanyikan lagu tanah air sebagai perwujudan rasa cinta kita terhadap tanah air. Dalam sambutannya, beliau berpesan supaya dapat bekerja sama  dalam lomba School Contest ini. Dan diperjelas oleh bapak Maki Ali, bahwa ajang ini menampilkan kreasi dari seseorang. Kita pun juga boleh berbangga hati dan bersaing dalam hal berkreatifitas. Namun, Kita juga harus mengambil manfaat dari semua pengalaman yang telah didapat dari School Contest ini. Karena itu, kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, karena percuma jika di buang sia-sia.(jack)

Read More...

Gedung IKCC Kediri penuh sesak para pengunjung dan peserta lomba. Di dalamnya terpajang berbagai  macam mading yang begitu menarik dan penuh kreasi. Tema Colorful Life menjadi salah satu dasar ide pembuatan mading mereka. Ketika kami mengelilingi daerah mading, salah satu kru mading SMAN 7 Kediri yaitu Septiana mengajak kami berkunjung ke madingnya sekaligus mempromosikannya seolah dia sudah kenal dengan kami. Padahal bertemu pun baru kali ini. Sebenarnya, kami tak begitu berniat mewawancarainya. Tapi, Septiana selalu mengajak kami bercanda, sehingga tak sengaja kami melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang meliputi mading mereka.
Mading dengan tema “Fairy Wold” memiliki keunikan tersendiri. Peri Dunia yang dimaksudkan mereka adalah mereka ingin membandingkan antara peri dan manusia.” Semua ini berkat Mas bos, soalnya udah ngasih kita ide kayak gini” cetus Septi penuh canda. Mading yang diketuai oleh Lolita ini mampu menyelesaikan mading dalam kurun waktu hanya 10 hari saja. “Tapi ya itu, harus lembur biar mencapai target,” jawab Septi lagi. Sedangkan biaya yang harus dikeluarkan mencapai 525.000 rupiah, karena yang membuat mahal adalah gabus dan catnya.
Adapun unsur yang terdapat dalam mading SMAN 7 Kediri yaitu dakron sebagai awan yang di ibaratkan bahwa ada sebuah istana di atasnya, dan diselipkan pohon yang menjulang tinggi hingga menembus awan sebagai symbol kesejukan. Dan yang tak kalah menarik, terdapat kolam kecil yang diisi dengan air. Maksudnya adalah sumber kehidupan yang terus ada dalam dunia peri tersebut. Pokoknya, mading mereka sangat berwarna. Sekilas melihat tema “Colorful Life”, spontan mereka tertuju pada warna pelangi. Dan sontak mereka menggunakan kostum peri sebagi penarik minat para pengunjung.

Read More...